Langsung ke konten utama

Ternyata Akulah Luka itu

Hallo, perkenalkan aku Bia. Itu bukan namaku, tapi nama itu sudah menjadi bagian dari diriku selama 12 tahun. Saat ini usiaku sudah 24 tahun, masa remajaku dipenuhi dengan inner child yang cukup menghancurkan aku. Dan saat ini sudah hampir dari 70% lukaku sembuh. Aku ingin mencapai 100% lukaku sembuh, dan inilah salah satu cara yang akan aku lakukan. Terima kasih karena sudah menjadi bagian penting di hidupku dalam penyembuhkan lukaku. Meskipun aku tidak begitu yakin apakah cara ini mampu membantu aku atau tidak, tapi aku sangat ingin melakukannya. 

Apa yang aku ceritakan dibawah tidak sama sekali pembelaan dari diriku, karena pada akhirnya akupun sadar bahwa akulah luka terbesar itu. Aku hanya ingin menceritakan apa yang selama ini aku simpan baik-baik dan menjadi luka yang menggerogoti hatiku disetiap waktunya. Terima kasih sudah memahami keadaanku. 

1. Aku Juga Adik

Momen luka pertamaku adalah saat aku berusia 6 tahun dan terus berlanjut sampai aku berusia 18 tahun. Mungkin bagi sebagian besar orang ini masalah sepele, dan percayalah aku pun ingin sekali menganggap itu sepele, namun ternyata itu salah satu luka terberatku. Masalahnya adalah keiri hatian anak terhadap kakak dan adikknya. Saat itu aku anak ke 4 dari 5. Semua kakak dan adikku punya foto-foto semasa bayi mereka, namun cuma aku yang tidak ada dan hanya tersisa 1 foto, alasannya apa? sampai sekarangpun aku tidak tahu. Pada saat itu aku tidak terlalu dekat dengan kakak-kakaku, jadi aku terbiasa menghabiskan waktu dengan adikku. Dan rasanya seperti aku anak pertama. Aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dibela oleh kakak-kakakku, dan harus terus mengalah kepada adikku. 

Mamaku selalu bilang kalau aku harus selalu mengalah kepada adikku karena aku itu seorang kaka baginya, namun mama juga sering mengatakan kalau aku harus memahami kondisi kakaku karena aku adikknya. Lalu siapa yang akan memahamiku?

Saat kecil postur tubuhku kurus kering dan adikku gemuk nan lucu dan lebih menggemaskan. Ketiga kakaku bahkan tetangga yang sudah aku anggap sebagai orang tua juga lebih sering bermain dengan adikku. Dan tidak ada satupun momen menyenangkan  antara aku dengan ketiga kakakku. Walaupun aku selalu ingin.

Ketiga kakakku lebih sering ajak adikku bermain, jalan-jalan, dan membelikan barang untuknya. Apakah mereka lupa bahwa ada aku juga? bahwa aku dan adikku yang menggemaskan itu hanya beda 1 tahun, tapi kenapa rasanya aku harus selalu mengalah dan tidak seorangpun yang mau memahamiku.

Dan bodohnya aku, dari kecil pun aku menjadi anak yang hanya bisa diam dan mengikuti apapun yang orang lain katakan kepadaku, atau mungkin aku terpaksa menjadi diriku yang seperti itu?. 

Aku selalu merasakan sedih dan marah, tapi semua kurasakan hanya dalam diam. Adikku selalu menjadi prioritas dan aku hanyalah figuran di rumah itu. Kecemburuan dalam rumahpun semakin dalam kurasakan, aku hanya ingin merasakan apa yang dirasakan adikku. Aku marah, apa yang adikku rasakan dan momen masa kecilnya lebih indah dari aku. 

Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya menyampaikan apa yang aku rasakan, aku tidak pernah tahu seberapa berharganya diriku, dan mulai dari sinilah aku tidak mengenali diriku. Tidak tahu warna kesukaanku, tidak tahu makanan favoritku, bahkan aku tidak tahu apa yang aku inginkan.

2. Aku Benci Hari Ulang Tahunku

Beberapa tahun kemudian adikku yang keduapun lahir. Dan aku anak ke 4 dari 6 bersaudara. Masalah selanjutnya adalah  tentang kue ulang tahun. Sampai dengan usiaku ke 16 tahun aku terus mempertanyakan, kenapa hanya aku yang tidak pernah mendapatkan kue ulang tahun dan perayaan. Tapi malah hal buruk yang selalu aku dapatkan. Disetiap aku ulang tahun, rumah selalu menjadi tempat yang sangat menyeramkan dan aku selalu dituntut untuk share hadiah yang aku punya ke adikku. Jadi untuk siapapun yang mau kasih kado ke aku, adikku yang no 5 pasti mendapatkan juga. Alasan mereka melakukan itu adalah supaya adikku tidak nangis saat lihat aku mendapatkan hadiah. Lalu bagaimana denganku? bagaimana bisa perasaanku tidak diperhatikan juga? Tidak ada seorangpun yang bertanya apakah aku baik-baik saja dengan itu? Dan hal itupun tidak berlaku untukku, saat adik-adikku ulang tahun, mereka punya kue dan hadiah mereka masing-masing. Dan aku hanya penonton dibelakang panggung.

Saat ulang tahunku yang ke 17 ada banyak drama disana. Pada saat itu banyak sekali teman-temanku yang merayakan hari tahun ke 17 mereka dengan pesta yang indah dan menyenangkan. Dan pada saat waktuku akan tiba, aku memberanikan diriku untuk mengatakan ke mama bahwa aku ingin sekali kue ulang tahun dan pesta kecil di moment 17 tahunku. Namun seperti dugaanku, mama dan papa melarangku. Bahkan kakak-kakaku pun mendukung mereka. Bagi mereka hal itu hanya membuang-buang uang dan engga ada manfaatnya. Dan untuk pertama kalinya aku melakukan pemberontakan dirumah itu. 1 minggu sebelum ulang tahunku, aku kabur dari rumah. Pulang ke rumah hanya untuk tidur dan mandi lalu langsung pergi ke sekolah dan pulang ke rumah lagi malam, dan begitu saja selama 7 hari. Entahlah aku terlalu marah dan muak menahan diri. Namun pada akhirnya mereka mengizinkan aku untuk mendapatkan dream cake ku yang selama ini aku tunggu. Dan aku kembali pulang ke rumah yang tidak aku inginkan.

3. Aku Benci Rumah

Sejak SMP ambisiku untuk memiliki banyak teman dan menjadi pusat perhatian mulai muncul. Awalnya aku sangat tidak suka menjadi public attention, tapi aku pikir kalau aku bisa menjadi sesuatu mereka akan sadar bahwa aku ada.

Aku berhasil menjadi ketua Osis, mendapat peringkat, dan memiliki geng yang cukup hits pada masa itu. Saat itulah aku lebih sering menghabiskan waktu diluar rumah, lebih nyaman dengan teman-temanku, dan memberikan seluruh waktuku untuk mereka. Karena ternyata merekalah yang lebih bisa menghargaiku, memandangku ada, dan aku tidak peduli dengan apapun yang ada di rumah. Disaat aku kembali ke rumah, hanya suruhan, amarah, dan perilaku menjengkelkan yang aku dapatkan. 

Menjadi ketua Osis, mendapatkan peringkat, dan mengikuti banyak kegiatan seminar, bahkan lomba nasional pun ternyata tidak membuat mereka melihat bahwa aku ada. Dan sayangnya popularitas kedua adikku dan ketiga kakakku selalu lebih unggul daripada aku. Aku sangat benci rumah.

4. Sejak Saat Itu, Aku Terobsesi Untuk Sakit

Dalam diam aku selalu mencari cara untuk mendapatkan perhatian mereka, namun ternyata apa yang aku lakukan hanya menjadi luka baruku.

Saat itu adikku yang No.5 sakit DBD, dia dirawat dan akupun ikut sedih. Banyak orang dan keluargaku yang mendatanginya, mereka membawa banyak makanan enak, uang, bahkan hadiah. Pada waktu itu usiaku sekitar di umur 8/9 tahun. Dan entah bagaimana diusiaku saat itu aku berhasil mendapatkan kesimpulan bahwa kalau aku bisa sakit dan dirawat aku juga pasti akan bisa mendapatkan makanan enak dan hadiah. Tanpa pikir panjang lagi aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa sakit.

Aku berusaha sangat keras dan sedikit gila. Dan hanya diriku yang mengetahuinya. Pada tahap awal yang aku lakukan hanyalah main hujan-hujan dan tidak makan, tapi ternyata aku hanya demam dan dengan sentuhan kerokan penyakitku hilang. Baiklah aku harus berjuang lebih keras lagi. Dan tak lupa akupun berdoa dan meminta untuk sakit, karena aku sangat ingin hadiah dan perhatian mereka, aku memohon dengan segenap jiwa. 

Ternyata perjuanganku tidak sia-sia, di usia 9 tahun kalau tidak salah, aku didiagnosa polip. Menurut hasil rontgen ada gumpalan daging dihidung sebelah kiriku. Dan yups, aku berhasil mendapatkan penyakit. Aku senang dan sangat bahagia, walaupun sebenarnya aku tidak tahu menahu apa penyakit itu dan bagaimana bisa sembuh, yang aku pikirkan adalah "akhinya waktuku tiba". 

Mama sangat sensitif, pada saat mendengar hasil pemeriksaan dari dokter mama langsung nangis, dan dalam hatikupun langsung berkata "itu dia, tangisan itu yang selama ini aku inginkan, akhinya mama mengkhawatirkan aku". Dan akupun ikut menangis, namun tangisan kita berbeda arti. Aku menangis karena aku sangat senang.

Dan benar saja saat keluarga ku mengetahui hasilnya, tak jarang mereka mulai memberikan aku perhatian yang selama ini aku inginkan. Dan aku sangat senang. Papa mulai mencari berbagai pengobatan alternatif, kakaku mulai sering menanyakan keadaanku, dan aku tidak perlu selalu mengalah lagi dengan adikku.

Dan hal gilanya adalah, aku mulai takut penyakitku sembuh. Aku mulai melakukan segala cara agar aku tetap sakit. Karena aku tidak ingin semua perhatian itu hilang. Aku berusaha dengan keras. Aku menyakiti hidungku, aku tidak meminum obat yang papa beli dengan harga yang cukup mahal dan jauh sekali, aku tidak melakukan treatment, aku benar-benar berusaha.

Kurang lebih aku rasakan rasa sakit ini selama 4 tahun. Sejujurnya aku muak dengan penyakit ini. Rasanya sungguh menyesakkan saat kambuh dan rasa sakit yang tidak bisa aku kontrol. Dan 2 tahun terakhir itu aku melakukan check-up rutin dan melakukan treatment yang selama ini aku tinggalkan. Dan yups penyakit itupun hilang dengan entah bagaimana caranya dan meninggalkan penyakit lainnya yang sampai dengan saat ini aku rasakan. Namun penyakit yang saat ini aku rasakan tidak cukup bisa menghebohkan mereka seperti seblumnya. 

Dan semua kembali lagi seperti sedia kala. Ketiga kakaku dengan kesibukan mereka dan aku yang harus selalu mengerti segala hal dirumah. Pada saat itulah aku selalu berdoa untuk selalu mendapatkan sakit, sepertinya memang doaku terkabul. Bukan sakit fisik, namun hatiku yang terkoyak disetiap waktunya.

Obsesiku untuk dirawat selalu ada sampai diusiaku yang tak lagi muda, dan entah mengapa disetiap aku sakit klinik dekat rumahlah andalan penyakitku. Bahkan tak jarang juga aku berangkat sendiri, berobat sendiri, tanpa siapapun. Entahlah, mungkin mereka lupa bahwa aku sakit dan aku anak perempuan. 

Sampai pada waktu yang aku tunggu-tunggupun tiba, ini terjadi beberapa bulan lalu. Akhirnya aku diopname karena keadaan yang cukup darurat. Pada saat itu jam 9 malam, saat aku pulang kantor aku drop dan dilarikan ke UGD oleh rekan kerjaku. Dan akhirnya dokter memutuskan untuk rawat inap karena kondisiku yang cukup mengkhawatirkan.

Bagaimana? sudah cukup gawat bukan? anak perempuan, jam 10 malam sudah di UGD yang jaraknya cukup jauh dari rumah dan dengan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Namun seperti yang sudah kuduga. No One. No Worries. 

Dan pada saat itulah hati ini terasa begitu sesaknya. Namun masih sempat berpikir "yasudahlah, bukankah memang selalu seperti ini, bukankan sudah biasa, bukankah sudah terlatih, bukankah sudah kamu duga hal ini yang akan terjadi, mungkin memang mereka sibuk dan ada hal lain yang lebih penting, udah ya gapapa, kamu sudah terbiasa sendiri, dan kamu bisa atasi sendiri, udah ya gapapa". Sambil menangis terisak kepalaku dipenuhi dengan semua kalimat itu. Dan aku memutuskan untuk mematikan alat komunikasiku, berharap saat waktunya nanti menyala, ada banyak notif dari mereka. Namun benar saja, itu tetap bertahan menjadi harapanku.

Entah apa yang mereka pikirkan tentangku, entah bagaimana mereka menganggap aku selama ini, aku sudah tidak peduli. Saat ini apapun hal yang bisa aku lakukan sendiri, semua akan aku lakukan sendiri. Tidak ada harapan itu lagi. Biarlah itu menjadi luka terberatku. Aku tak apa. 


5. Aku Juga Mau Sepeda Pink itu.

Pada saat adik pertamaku berusia 7 tahun dia punya kebiasaan yang cukup buruk. Disetiap bangun pagi untuk berangkat sekolah dia selalu menangis dan menggemparkan seisi rumah. Dan papaku dengan ide briliannya bernegosiasi dengan adikku. Isi kesepakatan itu adalah papaku akan membelikan adikku sepeda kalau dia engga akan nangis lagi saat bangun pagi. 

Wah mengetahui hal itu hatiku pun gusar. Aku heran kenapa hadiah selalu datang untuk orang yang tidak bisa berperilaku baik? Aku jadi ingat kisah kakak keduaku yang sangat tidak bisa diatur dan bandel itu, pada saat itu dia ada konflik dengan papaku dan itupun karena dia yang nakal, dan waktu itu dia memutuskan untuk kabur dan mogok kuliah, saat dia memutuskan kembali pulang dan berbaikan dengan papaku, papaku menawarkan dua pilihan baik untuknya, tidak akan pernah aku lupakan. Pilihan itu adalah umroh atau motor baru. Apapun yang dipilih kakaku, aku sangat tidak peduli. Cuma aku heran bagaimana bisa hal itu papa lakukan ke mereka namun tidak ke aku?? Aku yang selalu menuruti semua perkataanya, diam saat mereka mengomel, melakukan pekerjaan rumah yang melelahkan, tapi tak pernah ada satupun pilihan untukku.

Saat sepeda itu datang mataku sangat berbinar melihat keindahannya. Sepeda berukuran sedang, berwarna pink, dan memilihi keranjang didepannya. Wah indah sekali, hatiku senang sekali melihatnya. Adikkupun gembira sekali dan langsung menaikinya. Aku yang melihat dari kejauhanpun ikut mengampirinya, berharap untuk menaikinya juga. Namun aku salah, adikku melarangku menaiki sepeda indah itu, karena menurut dia itu miliknya, papa beli hanya untuknya, dan tidak seorang pun bisa menggunakan selain dirinya.

Hatiku sakit sekali, hatiku sangat kecewa, dan sedih. Karena aku paham bahwa mungkin mama dan papa beli sepeda itu untuk kita berdua agar bisa bergantian, namun adikku tidak memperbolehkan aku menggunakan itu. Dan aku sangat ingat sekali bagaimana aku berkorban untuk menjadi budak adikku agar aku diperbolehkan menggunakan sepeda pink yang menggemaskan itu.

Karakter masa kecilku yang penakut, pendiam, dan penurut membuat aku selalu tertindas dirumah. Entah dari adikku atau kakaku.

Pah, aku juga mau sepeda pink itu.

Ceritaku belum selesai,

Aku akan update disetiap senin - rabu jam 16:00


Komentar